SURABAYA — Suasana belajar di kawasan Tembok Dukuh, Surabaya Barat, mendadak berubah panik setelah ratusan siswa dari berbagai jenjang pendidikan dilaporkan mengalami gejala keracunan massal usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG), Senin siang. (11/05/2026)
Sedikitnya sekitar 200 siswa dari 12 sekolah tingkat TK, SD hingga SMP dilaporkan mengalami keluhan kesehatan hampir bersamaan. Beberapa siswa terlihat lemas di ruang kelas, sementara lainnya harus mendapat penanganan cepat karena muntah dan sakit perut hebat.
Sekolah yang terdampak di antaranya SD Tembok Dukuh 1, SD Tembok Dukuh 3, SD Tembok Dukuh Atas 4, SD Aletheia, TK Aletheia, SMP Aletheia, SD Pancasila 45, SMP Islam, SD Raden Wijaya, TK Ubaid, SD Ubaid 1 dan 2, hingga sejumlah warga di RW X Demak Jaya yang juga disebut mengalami keluhan serupa.
Menurut keterangan sejumlah guru, gejala mulai muncul beberapa jam setelah para siswa menyantap makanan MBG yang dibagikan di sekolah masing-masing. Anak-anak mengeluhkan mual, pusing, sakit perut, hingga muntah berulang.
“Awalnya satu dua anak mengeluh pusing, lalu tiba-tiba banyak yang muntah hampir bersamaan. Ruang UKS langsung penuh,” ujar salah seorang tenaga pengajar yang enggan disebut namanya.
Kepanikan sempat terjadi saat sejumlah orang tua berdatangan ke sekolah setelah mendapat kabar anak mereka dilarikan untuk mendapat penanganan medis. Beberapa siswa terpaksa dipulangkan lebih awal, sementara lainnya dibawa ke puskesmas dan rumah sakit terdekat menggunakan ambulans maupun kendaraan pribadi.
Peristiwa ini langsung menjadi perhatian warga sekitar karena jumlah korban yang cukup besar dan tersebar di banyak sekolah dalam satu kawasan. Hingga sore hari, petugas kesehatan dan aparat terkait masih melakukan pendataan jumlah korban serta menelusuri sumber makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan massal tersebut.
Warga mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap distribusi makanan program MBG agar kejadian serupa tidak kembali terulang. Mereka berharap kualitas makanan, proses pengolahan, hingga distribusi diperketat sebelum diberikan kepada anak-anak sekolah.
Sementara itu, pihak terkait disebut tengah mengambil sampel makanan untuk diuji laboratorium guna memastikan penyebab pasti insiden yang membuat kawasan Tembok Dukuh mendadak lumpuh aktivitas belajar mengajar tersebut. (RJ)



