SURABAYA – Hujan deras dan angin kencang yang mengguyur Surabaya pada Senin (2/3) meninggalkan jejak kerusakan di berbagai sudut kota. Dalam hitungan jam, cuaca ekstrem itu memicu puluhan pohon tumbang, merusak bangunan, hingga merenggut satu nyawa pekerja di kawasan barat kota.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kota Surabaya mencatat sedikitnya 57 pohon roboh yang tersebar di 17 kecamatan. Wilayah terdampak meliputi Tambaksari, Tegalsari, Asem Rowo, Gubeng, Sawahan, Bubutan, Wonokromo, Gunung Anyar, Mulyorejo, Krembangan, Bulak, Sukolilo, Sambikerep, Genteng, Tenggilis Mejoyo, Rungkut, hingga Benowo.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Surabaya, Linda Novanti, menjelaskan bahwa sebagian besar pohon yang tumbang memiliki diameter antara 40 hingga 60 sentimeter. Faktor usia pohon yang sudah tua berpadu dengan terpaan angin kencang menjadi penyebab utama banyaknya pohon roboh.

“Petugas langsung melakukan pemotongan dan pembersihan di masing-masing lokasi agar akses jalan kembali normal,” ujarnya.

Tak hanya pohon tumbang, cuaca buruk juga menyebabkan empat bangunan mengalami kerusakan di wilayah Gunung Anyar, Bubutan, Genteng, dan Sukomanunggal. Penanganan dilakukan secara bertahap dengan melibatkan perangkat kelurahan setempat.

Di tengah upaya penanganan dampak cuaca, kabar duka datang dari kawasan Pakuwon Mall. Seorang pekerja pembersih kaca gedung apartemen Ascott dilaporkan meninggal dunia setelah alat gondola yang digunakannya terombang-ambing akibat angin kencang dan hujan lebat.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 14.30 WIB saat dua pekerja tengah membersihkan kaca dinding gedung. Tiba-tiba hujan turun deras disertai angin kencang yang membuat gondola berayun tak stabil. Tim internal kawasan segera melakukan evakuasi dengan dukungan BPBD serta Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Surabaya yang mengerahkan lima unit mobil pemadam.

Kepala Bidang Pemadaman DPKP Surabaya, M. Rokhim, membenarkan satu korban meninggal dunia dalam insiden tersebut. Korban diketahui bernama Eddy Suparno (51), warga Tambak Wedi Baru. Sementara rekannya, Ribut Boediyanto (56), mengalami luka dan saat ini menjalani perawatan di Rumah Sakit William Booth Surabaya.

Cuaca ekstrem kali ini menjadi pengingat bahwa perubahan kondisi atmosfer dapat terjadi secara tiba-tiba dan membawa dampak luas, mulai dari gangguan lalu lintas hingga risiko keselamatan kerja di ketinggian. Pemerintah kota mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan deras disertai angin kencang melanda. (Yana)