KEDIRI – Pemandangan tak biasa menghiasi langit Kabupaten Kediri, Jawa Timur, dalam beberapa pekan terakhir. Ribuan burung migran terlihat berputar di udara sebelum akhirnya turun ke hamparan persawahan. Fenomena alam ini menarik perhatian warga karena kawanan burung tampak terbang berkelompok pada pagi dan sore hari, menciptakan pemandangan yang menyerupai “awan hidup” di langit Kediri, Sabtu (7/3/2026).

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Warga di sejumlah wilayah, terutama di Kecamatan Gampengrejo dan kawasan pesawahan sekitarnya, mengaku hampir setiap hari melihat burung-burung tersebut datang dalam jumlah besar. Setelah berputar di udara, kawanan itu kemudian mendarat di sawah, lahan basah, hingga area perkebunan tebu untuk mencari makan.

Fenomena ini berkaitan dengan musim migrasi burung dari belahan bumi utara. Saat musim dingin melanda wilayah seperti Rusia dan China, banyak burung melakukan perjalanan ribuan kilometer menuju daerah beriklim lebih hangat di Asia Tenggara hingga Australia. Kediri menjadi salah satu titik persinggahan penting karena memiliki lahan pertanian dan ekosistem basah yang menyediakan makanan melimpah.

Salah satu jenis burung yang tercatat singgah adalah Terik Asia, burung migran yang dikenal aktif melintasi jalur migrasi East Asian–Australasian Flyway. Jalur ini merupakan rute migrasi utama bagi jutaan burung yang bergerak dari Asia Timur menuju Asia Tenggara hingga Australia.

Kehadiran burung-burung migran tersebut ternyata membawa manfaat bagi lingkungan sekitar. Saat berada di area persawahan, mereka memakan berbagai serangga kecil yang kerap menjadi hama tanaman. Dengan demikian, secara tidak langsung burung-burung ini membantu petani mengendalikan hama secara alami.

Selain memberi manfaat ekologis, fenomena ini juga menjadi indikator bahwa kondisi lingkungan di Kediri masih cukup baik bagi satwa liar untuk singgah dan beristirahat. Keberadaan sumber air, lahan basah, serta ketersediaan makanan menjadi faktor penting yang membuat kawasan ini dipilih sebagai tempat transit dalam perjalanan panjang mereka.

Pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur mengimbau masyarakat agar tidak mengganggu burung migran yang sedang singgah. Aktivitas seperti memburu, menangkap, atau merusak habitat dapat mengganggu proses migrasi dan berpotensi melanggar hukum, terutama jika burung yang datang termasuk dalam kategori satwa dilindungi.

Petugas juga terus memantau lokasi-lokasi yang menjadi tempat singgah kawanan burung tersebut. Masyarakat diharapkan ikut menjaga lingkungan sekitar dengan tidak mencemari lahan basah dan melaporkan jika ada aktivitas perburuan ilegal.

Bagi warga Kediri, fenomena ini bukan sekadar peristiwa alam biasa. Ribuan burung yang melintasi langit setiap pagi dan sore menjadi pengingat bahwa wilayah mereka merupakan bagian dari jalur migrasi satwa dunia—sebuah “bandara alami” bagi para tamu bersayap yang menempuh perjalanan ribuan kilometer melintasi benua. (Rijal)