SURABAYA – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya membuat gebrakan baru dengan mengalokasikan dana Rp 5 juta per bulan untuk setiap Rukun Warga (RW) yang dikelola khusus oleh generasi muda atau Gen Z. Program ini menjadi bagian dari penguatan ekonomi berbasis Kampung Pancasila yang kini diarahkan sebagai ruang tumbuhnya wirausaha muda di level lingkungan. (17/02/26)

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menegaskan bahwa bantuan tersebut bukan sekadar hibah yang habis untuk kegiatan seremonial. Dana hanya akan cair jika ada proposal usaha yang jelas, terukur, dan berdampak langsung bagi warga sekitar.

“Kalau kegiatannya jelas manfaatnya dan bisa dirasakan warga, dananya langsung cair. Tapi kalau hanya seremonial tanpa dampak, tidak akan kami berikan,” tegas Eri.

Berbeda dari program bantuan  pada umumnya, skema ini dirancang sebagai modal tetap berbasis proposal. Artinya, anak-anak muda di tingkat RW harus menyusun rencana usaha yang matang mulai dari jenis usaha, target pasar, hingga proyeksi keberlanjutan.

Pemkot ingin  memastikan dana tersebut berputar menjadi aktivitas ekonomi nyata, seperti kuliner rumahan, produksi kerajinan, digital kreatif, jasa desain, hingga pengelolaan UMKM berbasis teknologi.

Dengan pola ini, Kampung Pancasila tak lagi sekadar simbol nilai kebangsaan, tetapi juga menjadi laboratorium kewirausahaan di tengah permukiman warga.

Program ini juga menjadi bentuk kepercayaan Pemkot kepada Gen Z sebagai motor penggerak ekonomi baru. Di tengah tantangan lapangan kerja dan persaingan global, anak muda didorong tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi pencipta kerja.

Setiap RW diharapkan mampu melahirkan minimal satu unit usaha produktif yang dikelola anak muda setempat. Jika berhasil, model ini bisa berkembang menjadi klaster usaha kampung yang saling terhubung.

Pemkot memastikan pencairan dana dilakukan secara transparan dan berbasis evaluasi. Proposal yang lolos akan dipantau pelaksanaannya agar dana benar-benar digunakan sesuai rencana.

Langkah ini dinilai sebagai strategi jangka panjang untuk membangun ekonomi berbasis komunitas, sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tingkat RW.

Dengan “suntikan” Rp 5 juta per bulan, Kampung Pancasila di Surabaya kini tak hanya berbicara soal nilai, tetapi juga peluang. Jika berjalan konsisten, bukan tidak mungkin dari gang-gang kampung akan lahir brand-brand lokal yang tumbuh besar dari tangan Gen Z. (Rijal)