SIDOARJO – Meningkatnya kemunculan ular berbisa di kawasan permukiman saat musim hujan memicu kekhawatiran warga Desa Anggaswangi, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo. Di tengah kondisi tersebut, (12/04/2026) muncul seruan kuat dari masyarakat untuk menghentikan perburuan satwa liar seperti biawak, elang, dan garangan yang justru berperan sebagai pengendali alami ekosistem.
Dalam beberapa pekan terakhir, warga melaporkan meningkatnya kasus ular masuk ke rumah dan lingkungan padat penduduk, termasuk jenis berbahaya seperti kobra jawa. Kondisi ini diduga berkaitan dengan menurunnya populasi predator alami akibat aktivitas perburuan yang tidak terkendali.
Satwa seperti elang, biawak, dan garangan diketahui memangsa telur hingga anak ular, sehingga membantu menekan pertumbuhan populasi reptil berbisa. Tanpa kehadiran mereka, keseimbangan rantai makanan terganggu dan risiko interaksi berbahaya antara manusia dan ular semakin meningkat.
Tak hanya itu, garangan juga memiliki manfaat penting bagi sektor pertanian. Hewan ini dikenal efektif dalam mengendalikan hama tikus yang kerap merusak tanaman warga. Sementara itu, peran satwa karnivora lain sebagai pemakan bangkai turut membantu menjaga kebersihan lingkungan secara alami.
Sejumlah warga mulai menyadari bahwa perburuan satwa liar justru berdampak balik bagi kehidupan mereka sendiri. “Kalau terus diburu, yang rugi kita juga. Ular makin sering muncul, hama juga bisa meningkat,” ungkap salah satu warga setempat.
Melalui imbauan ini, masyarakat Desa Anggaswangi diajak untuk lebih peduli terhadap kelestarian lingkungan dengan tidak lagi memburu satwa liar secara berlebihan. Membiarkan mereka hidup di habitatnya dinilai sebagai langkah penting untuk menjaga keseimbangan alam sekaligus melindungi kehidupan manusia.
Kesadaran kolektif pun diharapkan terus tumbuh, sehingga wilayah Anggaswangi dapat menjadi contoh harmonisasi antara manusia dan alam di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks. (RJ)



