SURABAYA — Suasana semangat dan militansi mulai terasa di berbagai sudut Kota Pahlawan. Komunitas Arek Suroboyo Asli (ARSAS) resmi menggerakkan mesin organisasinya dengan membuka rekrutmen koordinator lapangan, sebagai langkah awal menuju gelaran bisa bertajuk Deklarasi Jogo Suroboyo. (23/04/2026)
Bukan sekadar agenda seremonial, gerakan ini digadang-gadang menjadi simbol kebangkitan solidaritas warga lokal. Ribuan orang dari berbagai kalangan mulai dari pemuda kampung, komunitas, hingga elemen masyarakat sipil diproyeksikan akan memadati titik deklarasi dalam satu momentum kebersamaan.
Ketua Umum ARSAS, Herry Bimantara, menekankan bahwa gerakan ini lahir dari kegelisahan sekaligus tanggung jawab moral terhadap kota. Menurutnya, semangat Arek Suroboyo tidak boleh hanya hidup dalam jargon, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata.
“Ini bukan soal acara besar atau ramai-ramai saja. Ini tentang bagaimana kita menjaga harga diri kota, menjaga lingkungan kita, dan menunjukkan bahwa Arek Suroboyo tetap solid dalam kondisi apa pun,” tegasnya.
Rekrutmen koordinator lapangan menjadi strategi utama ARSAS dalam memastikan pergerakan massa berjalan terstruktur. Para koordinator ini nantinya akan menjadi penghubung di tingkat wilayah, menggerakkan partisipasi warga dari seluruh kecamatan, sekaligus menjaga kondusivitas selama acara berlangsung.
Gerakan Jogo Suroboyo sendiri membawa tiga napas utama memperkuat solidaritas lintas kelompok, menghidupkan kembali karakter khas warga Surabaya yang egaliter dan berani, serta membangun komitmen jangka panjang dalam menjaga stabilitas kota.
Menariknya, pendekatan yang digunakan ARSAS bukan hanya mobilisasi massa, tetapi juga pembentukan identitas kolektif. Mereka ingin memastikan bahwa semangat menjaga kota tumbuh secara organik, bukan sekadar respons sesaat terhadap situasi tertentu.
Dengan persiapan yang terus dimatangkan, Deklarasi Jogo Suroboyo diprediksi menjadi salah satu momen penting tahun ini bukan hanya karena skala massanya, tetapi juga pesan kuat tentang persatuan dan kepedulian terhadap kota.
Jika gaung ini terus membesar, bukan tidak mungkin Surabaya akan kembali dikenal bukan hanya sebagai kota sejarah, tetapi juga sebagai kota dengan solidaritas warganya yang tak tergoyahkan. (RJ)



