JEMBER – Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Jember sejak Kamis hingga Jumat dini hari (12–13 Februari 2026) memicu banjir di sejumlah kecamatan. Luapan air sungai membuat ratusan warga terpaksa mengungsi demi keselamatan.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Penanganan dilakukan secara terpadu oleh jajaran Polda Jawa Timur melalui Polres Jember bersama TNI, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI), Tagana, Dinas Sosial, pemerintah kecamatan dan desa, serta para relawan.

Fokus penanganan berada di Kecamatan Rambipuji, wilayah dengan dampak paling parah. Warga yang rumahnya terendam dievakuasi ke lokasi aman, salah satunya di Balai Desa Rambipuji. Selain evakuasi, petugas juga membersihkan lumpur sisa banjir dan mendirikan dapur umum serta dapur mandiri guna memastikan kebutuhan logistik pengungsi tetap terpenuhi.

Kapolres Jember AKBP Bobby A. Condroputra melalui Wakapolres Kompol Ferry Dharmawan yang turut memimpin evakuasi menegaskan komitmen kepolisian dalam penanganan bencana.

“Kami hadir untuk memastikan warga terdampak mendapatkan pertolongan dengan cepat. Evakuasi kami lakukan ke tempat yang lebih aman, sekaligus menyalurkan bantuan logistik selama masa tanggap darurat,” ujar Kompol Ferry, Sabtu (14/2/2026).

Ia menambahkan, koordinasi lintas instansi terus diperkuat untuk mempercepat pemulihan serta menjaga situasi tetap kondusif. Keselamatan dan pemenuhan kebutuhan dasar warga menjadi prioritas utama.

Berdasarkan data BPBD, sebanyak 3.944 kepala keluarga (KK) di delapan kecamatan dan 17 desa/kelurahan terdampak banjir. Kecamatan Rambipuji mencatat dampak terbesar dengan 3.210 KK terdampak.

Banjir dipicu meningkatnya debit air di sejumlah sungai, antara lain Sungai Dinoyo, Kaliputih, Kalijompo, Kaliklepuh, dan Sungai Bedadung, dengan ketinggian air berkisar 30 sentimeter hingga 2 meter. Luapan tersebut merendam permukiman, merusak jembatan, serta mengganggu arus lalu lintas di beberapa titik.

Petugas masih bersiaga di lokasi untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan, mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi terjadi dalam beberapa hari ke depan. (Rijal)